cara kerja di era 2.0

perkembangan teknologi informasi yang pesat, memunculkan banyak profesi yang sepuluh tahun lalu belum ada. misalnya waktu itu belum ada yang namanya social network macam facebook, flickr, twitter, youtube, website dan lainnya.

selain memunculkan bidang pekerjaan baru, teknologi tersebut juga melahirkan cara baru menyelesaikan sebuah pekerjaan. jika tidak bisa beradaptasi, mau tak mau harus siap-siap kelaut, berenang dengan ikan hiu. 🙂

ke depan pekerjaan akan tampak lebih transparan. dulu produktivitas seseorang susah diukur. sebuah kantor bisa saja memboroskan uangnya jutaan dolar setiap tahunnya hanya untuk membayar waktu karyawan yang dipakai untuk membolos atau ngerumpi. namun sekarang sudah tersedia tracking tools yang merevolusi ukuran produktivitas karyawan. Semakin produktif, semakin banyak uang yang didapat.

karena dunia sudah menjadi flat, otomatis tak ada lagi keluhan telat ke kantor karena perjalanan macet. karena pekerjaan bisa dilakukan di mana saja. kuncinya adalah komunikasi. dengan sambungan telepon kita bisa menyelesaikan pekerjaan di belahan mana saja.

sampai sekarang selembar ijazah masih menjadi \”surat sakti\” ketika melamar suatu pekerjaan. namun pandangan itu berangsur-angsur keliru. saat ini kampus bisa diibaratkan smu yang baru. sehingga orang-orang yang berpendidikan informal bisa jadi lebih mudah diterima, karena mempunyai ketrampilan khusus yang update banget.

tak jarang \”kontraktor\” dari belahan dunia lain akan menghire orang-orang yang memenuhi kriteria yang diinginkan. sehingga outsourcing akan meningkat. sebenarnya tujuan outsourcing itu bukan untuk menghemat uang namun untuk menciptakan inovasi.

keadaan ini akan berefek pada pembagian kerja yang lebih spesifik. sebuah pekerjaan bisa dikerjakan oleh lebih banyak orang dari mana-mana. sehingga istilah \”karir\” mungkin akan berubah sebasi mesin ketik. kenapa karena tak ada seorang pun yang bisa menjamin kita punya karir yang sama seumur hidup.

dengan model pekerjaan seperti itu, otomatis setiap orang akan mempunyai lebih banyak waktu luang dibanding sebelumnya. efeknya seorang karyawan punya akses yang lebih besar untuk mengembangkan keahlian yang disenangi.

*postingan ini dicontek abis dari presentasi oDesk.com, ditafsirkan sebebas-bebasnya oleh saya 🙂

Share Button

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*