dinamika pengangkot malam

pulang malam di jakarta itu bak makan buah simalakama busuk dan berulat! tentu saja ini berlaku pada saya dan para pemakai angkutan umum saja. ketika jarum pendek jam menuding angka 1 atau 2 dan kau masih berada dipinggir jalan raya, berdoalah agar malam ini baik-baik saja.

pada dini hari itu pintu halte busway tutup. angka-angka penanda jurusan di angkot tak berfungsi. angkot C 01 yang biasa melaui rute cileduk kebayaran, pecicilan sampai blok m bahkan senen. sebelum memutuskan naik harus bertanya lewat mana saja.

meski jalanan sangat lengang, angkot berjalan seperti keong. diam-diam pak sopir mengharapkan ada “sewa” (sebutan penumpang) dari arah langit. memang beberapa kursi masih kosong. namun siapa mau duduk berdampingan dengan pemabok bermata merah yang menyisakan bangku sedikit saja?

agak mengherankan, nyaris semua penumpang berwajah garang. mereka memandang tak cukup sekali. kadang sok akrab. atau mungkin menguji nyali dengan pertanyaan, turun mana, turun mana? jawaban untuk membungkam mereka cukup pendek saja, depan situ aja.

meski masih tanggal muda, uang yang kau bawa tak akan cukup berguna. setoplah taksi, dan kau akan keliru. mengira taksi warna biru itu adalah bluebird langganan. saat-saat genting itu, taksi-taksi beneran semacam express dan putra lenyap. untuk itu mari kita belajar sabar. selain kondisi fisik taksi yang usang, perilaku sopirnya cukup menggelikan.

mulutnya “cak cek cak cek” ketika taksinya di salib, menghadapi polisi tidur atau ketika mobil di depannya melambankan lajunya. dia akan menolak pilihan rute jalan mana saja yang akan kita lewati. sok tahunya setinggi nada suara yang di semburkan. minta turun tentu tak memungkinkan bukan?

karena memutar, ongkos dari radio dalam ke jalan deplu raya bintaro menjadi 27 ribu (biasanya 15 ribu). kesalahan fatalku, aku tak membayarnya dengan uang pas. seperti dugaanku, dia menyodorkan uang kembalian 20 ribu saja. aku diam, menunggu. dia diam. aku diam, dia tetap diam.

aku coba minta kekurangannya, dia baru menjawab tak ada. ini belum seberapa, dulu malah lebih parah. ditengah jalan tiba-tiba argonya mati. yang agak manusiawi, ia tak merokok selama perjalanan. dan menurunkan kaca cendela sebelah kanannya setengahnya. karena memang ac nya tak ada.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*