aldie memutuskan bekerja di rumah sendiri

semua pekerja, nyaris menghabiskan seluruh waktunya di pabrik. berangkat ketika ngantuk belum terpuaskan dan pulang saat pintu terkunci rapat. setiap hari, bulan tahun sampai mati. beberapa malah berumah di tengah-tengah pekerjaan.

sampai-sampai tak menyadari anak-anak mereka telah meninggalkan tubuh kecilnya. cukup dilematis. apalagi di kota metro ini. namun masih ada cara untuk mengatasi. contohnya aldie. dia mengundurkan diri dan memilih bekerja di rumah sendiri.

suatu siang, dia mempersiapkan desain untuk kampanye pabriknya. ia menerima laporan, anaknya terjatuh dari sepeda. rupanya peristiwa itu ditafsirkannya sebagai peringatan. selama ini anak-anaknya ditelantarkan.

lintang dan langit, dua anaknya. agak bosan aku mendengarnya karena begitu seringnya dia menceritakan keduanya. cerita solah tanpa ending. tentang ekspresi kesalnya, sering jajannya dan pertanyaan-pertanyaannya yang orang bijak pun tak bisa menjawabnya.

namun semuanya itu membuatnya tetap tersenyum.

ia tak akan melewatkan momen itu lagi. menyusun dan menyimpan peristiwa yang tak berulang itu dan menjadikannya kenangan. selebihnya ia tak mau menyerahkan bulat-bulat pendidikan anak-anak itu di ruang-ruang yang sewanya mahal saja.

setiap saat ia ingin mendengar kedua anaknya memanggil lembut, ayah.. ayah…, mendengar keluhan dan keceriannya. ia berharap anak-anaknya tetap menanyakan ketika dia baru saja pulang. dan mereka juga tak menolak menjawab ketika ditanya kemana akan pergi.

aldie ingin selalu memandang bening mata kedua anaknya. katanya, tak hanya ada tujuh keajaiban dunia di sana. namun sejuta, bahkan lebih.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*