laki-laki berperut panda yang gelisah di malam natal

blok m malam natal pukul 01.30. kedai fastfood yang tak pernah tutup itu masih ramai. ruangan dipenuhi orang-orang yang berpakaian formal, mereka kelaparan sepulang dari gereja.

teman yang duduk di depanku masih mempermainkan asap rokok. awalnya kami duduk di dalam, karena ia ingin merokok, kami ke ruang terbuka yang bebas mengamati pemandangan para perempuan diskotik yang bubaran.

sebenarnya malam ini aku tak ada rencana keluar. namun teman berperut panda ini ngajak nongkrong, ngopi di tempat biasa. ide yang tak buruk, karena besok libur. daripada di kost berteman dengan kucing lebih asyik menikmati malam natal di luar.

belum sampai di tempat tujuan, dia mengirimkan sms, ia mengubah rencananya. ia memutuskan nonton saja. baiklah toh ada film-film menarik yang sedang tayang. madagaskar 2 kayaknya lucu juga ya, katanya. namun ia membeli 2 tiket di theater 6, australia.

“kamu ngantuk ga”, tanyanya. nggak! sengaja aku tidak jujur pada diri sendiri. namun aku juga tak nyaman membiarkan dia tersiksa. film belum separuh jalan, kami mantap beranjak dari kursi merah marun.

sampai di luar, kita belum tahu mau kemana. aku menawarkan beberapa tempat alternatif. salah satunya ke kedai kopi. dia menolak, rasa kopinya tak sesuai dengan seleranya.

“aku pengen ke bandung, katanya. aku tak menanggapinya. aku tahu dia pasti tak serius tengah malam mau ke bandung. “aku mau ke lokananta saja. aku pengen menikmati wine, lanjutnya”. sesuatu yang bukan kebiasaanku.

dia memencet-mencet keypad handphone nya. “si sukamisuh pulang kampung, si sukajalan ke bandung, si manusia tipis merayakan natal” dia menyebut teman-temannya yang gemar minum “air perdamaian” itu tanpa kutanya.

“rumputeki kemana ya?”

“dia mungkin pulang, mungkin juga ngga. dia bilang belum ada kepastian. ”

aku langsung meneleponnya. beruntung, dia masih melek. dengan sepenuh ramah aku menyampaikan keinginan laki-laki berperut panda itu untuk datang kerumahnya. seperti yang aku duga, dia ngamuk! faktanya dia sudah tidur.

mentok! tak ada keputusan. kami berdua pelan-pelan menjadi manusia autis. pembicaraan membeku. aura dan ekspresi wajahnya sungguh beda. sebagai teman yang baik, aku tak menanyai kenapa malam ini ia seperti jesus yang diseret-seret memanggul salib.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*