sastra klasik nan mesum

serat centhini ini judul sebenarnya adalah suluk tambangraras. bentuknya syair/ tembang jawa. ditulis sastranegara, ranggasutrasna dan sastradipura, pujangga kasultanan surakarta adiningrat tahun 1809.

elizabeth d inandiak, menerjemahkan buku ini ke bahasa perancis. dibantu beberapa teman menuliskannya ke bahasa indonesia. empat puluh malam dan satunya hujan merupakan jilid pertama dari serangkaian jilid yang direncanakan.

buku kedua minggatnya cebolang, ketiga ia yang memikul raganya sudah beredar. dari nafsu ke abu adalah jilid berikutnya yang belum tercetak.

kisah bermula dari raja blambangan yang putrinya sakit. ia berucap siapa yang bisa menyembuhkan akan dijadikan menantunya. syekh walilanang ulama dari arab bisa menyembuhkan dengan syarat raja mau masuk islam. putrinya sembuh, namun raja itu ingkar.

kecewa syekh pergi ketika isterinya hamil. anak itu dilarung ke laut dan ditemukan janda kaya. giri, nama anak itu lalu belajar sampai ke malaka. ia bertemu dengan ayahnya. namun ayahnya menyuruh kembali ke jawa. giri lalu mendirikan padepokan.

terdengar sampai ke sultan agung. ia meminta giri untuk tunduk. giri menolak dan menyatakan perang. anak giri yang tertua jayengresmi menolak perang. di tengah kobaran api hancurnya padepokan, ia memulai pengembaraanya.

sampai di pondok wanaarta namanya berubah menjadi amongraga. lalu menikahi tambang raras, anak pemimpin pondok tersebut.

malam pertama di kamar pengantin tambang raras duduk di ranjang berkain putih yang ditenun dari akar wangi. di sampingnya centhini bersimpuh. begitu amongraga masuk kamar, centhini menyelinap ke balik sekat.

amongraga duduk di buritan ranjang dan tambangraras di haluannya. keduanya berhadapan berjauhan saling memandangi ketelanjangan tubuhnya.

dari balik sekat, centhini menangkap desah amongraga dan engah tambangraras. bulir-bulir peluh di tubuh mereka yang membara dan memenuhi kamar di malam pertama itu.

keduanya tak tidur sampai adzan subuh. malam itu mereka lewatkan dengan dialog. begitu seterusnya sampai malam ke tigapuluh sembilan. amongraga menceritakan tentang diri dan Tuhan. inilah inti dari isi serat tersebut: ajaran tasawuf.

pada malam ke empat puluh, hujan hangat turun malam itu, bagai air mendidih dituang. centhini segera tahu. ia pergi ke sumur, mengisikan air tempayan, lalu diletakkan di kaki ranjang bidadari.

burung benggala bernyanyi tanpa henti, parkit melayu bersuara merayu, berkicau mentertawakan koyaknya selaput dara seorang perawan di malam hari.

centhini keluar di pagi buta itu mengabarkan ke ki panuarta dan isterinya yang telah menunggu selama 40 malam tanpa tidur.

perlahan amongraga pergi meninggalkan isterinya. ditulisnya surat kepada tambang raras: kekasihku di jalan ada perjumpaan dan sua kembali. tapi kita berjalan sendiri-sendiri, kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.

pada edisi minggatnya cebolang, pengembaran syahwat diceritakan lebih liar dan dahsyat! namun aku belum selesai membacanya. 🙂

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*